ABOUT SEMARANG – Kuningan, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Jawa Barat, menyimpan sejarah yang kaya dan perjalanan panjang hingga mencapai statusnya seperti saat ini.
Hari Jadi Kuningan yang jatuh pada tanggal 1 September setiap tahun menjadi momen penting bagi masyarakat setempat untuk mengenang perjalanan sejarah, mulai dari zaman Hindu-Buddha hingga masa kemerdekaan Indonesia.
Dalam artikel ini, kita akan menelusuri jejak peradaban Kuningan berdasarkan data yang telah dituangkan dalam Peraturan Daerah No. 21/DP.003/XII/1978.
Sekitar 3500 tahun sebelum Masehi, Kuningan sudah menunjukkan tanda-tanda pemukiman yang telah mencapai tingkat kebudayaan yang cukup maju.
Bukti-bukti peninggalan sejarah yang ditemukan di wilayah ini mengindikasikan bahwa kawasan ini telah dihuni oleh masyarakat dengan sistem pemerintahan yang berkembang.
Pada masa Kerajaan Kuningan, yang tercatat dalam sejarah pada tanggal 11 April 732 M, telah terbentuk suatu kekuatan politik yang mengatur daerah ini. Saat itu, seorang tokoh bernama Seuweukarma dinobatkan sebagai Raja pertama Kerajaan Kuningan.
Ia dikenal dengan gelar Rahiangtang Kuku dan bersemayam di Arile dan Saunggalah, dua tempat yang kini menjadi bagian dari sejarah Kuningan.
Raja Seuweukarma, yang menganut ajaran Dangiang Kuning, dikenal karena menerapkan sepuluh pedoman hidup yang ketat bagi rakyatnya. Pedoman ini meliputi prinsip-prinsip moral seperti tidak membunuh, tidak mencuri, dan tidak berzina, yang masih mempengaruhi budaya masyarakat Kuningan hingga kini.
Dikutip dari kuningankab.go.id, perjalanan sejarah Kuningan mengalami berbagai dinamika seiring dengan pergantian raja dan pemerintahan.
Setelah Seuweukarma, kerajaan ini diperintah oleh Sanjaya, yang memimpin Kuningan selama sembilan tahun. Setelah itu, Rahiang Tamperan, putra Sanjaya, melanjutkan kepemimpinan di Kuningan dan kemudian dilanjutkan oleh keturunannya, Rahiang Banga.
Pada 22 Juli 1175 M, Kuningan menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sunda di bawah pimpinan Rakean Darmasiksa, putra ke-12 dari Rahiang Banga.
Namun, pada tahun-tahun berikutnya, pusat pemerintahan Kerajaan Sunda dipindahkan ke Pakuan Pajajaran, yang kini dikenal dengan nama Bogor.
Nama Kuningan pun sempat berganti menjadi Kajene, yang artinya “kuning” atau “emas”, mencerminkan kekayaan dan kemakmuran daerah tersebut.
Perkembangan agama Islam juga memberikan warna tersendiri dalam sejarah Kuningan. Pada abad ke-15, Syekh Maulana Akbar, seorang ulama besar asal Cirebon, memperkenalkan Islam ke daerah Kuningan.
Beliau mendirikan pesantren di Sidapurna dan memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat setempat. Nama tempat seperti Purwawinangun menjadi simbol dari awal pembangunan komunitas Islam di Kuningan.
Pada 1481 M, Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati juga membawa pengaruh besar dalam penyebaran Islam di wilayah ini.
Ia menikahi putri Ong Tien dari Cina, yang kemudian berganti nama menjadi Ratu Mas Rara Sumanding, yang turut serta memperkuat penyebaran agama Islam di Kuningan.
Pada 1 September 1498, Sang Adipati Kuningan dinobatkan sebagai pemimpin Kuningan, dan sejak saat itu, Kuningan kembali dikenal dengan nama aslinya setelah sempat berganti menjadi Kajene.
Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Kuningan memiliki peran penting dalam mempertahankan kemerdekaan. Eyang Hasan Maolani, seorang ulama besar dari Lengkong, menjadi simbol perlawanan terhadap penjajah Belanda.
Beliau dibuang ke Gorontalo, namun semangat perjuangannya tetap dikenang. Selain itu, Linggarjati di Kuningan menjadi saksi bisu perundingan penting antara Indonesia dan Belanda, yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Linggarjati.
Selama periode Revolusi Fisik, pasukan dari Kuningan ikut serta dalam pertempuran melawan penjajah Belanda, dengan beberapa wilayah seperti Ciwaru menjadi basis perjuangan.
Rakyat Kuningan bersama TNI bahu-membahu untuk memadamkan pemberontakan DI/TII yang mengguncang daerah ini pada masa setelah kemerdekaan.
Sepanjang sejarahnya, Kuningan telah dipimpin oleh banyak tokoh yang memiliki peran penting dalam perkembangan daerah ini.
Sejak zaman Hindu-Buddha hingga masa kemerdekaan Indonesia, Kuningan dipimpin oleh berbagai kepala pemerintahan, termasuk tokoh-tokoh terkenal seperti Rahiang Tamperan, Sang Adipati Kuningan, dan Syarif Hidayatullah.
Saat ini, Kuningan dipimpin oleh Bupati H. Acep Purnama, SH, MH, dengan Wakil Bupati Muhammad Ridho Suganda, SH., M.Si., yang terus memajukan daerah ini menuju kemajuan dan kesejahteraan.
Sejarah Kuningan adalah sejarah panjang yang dimulai dari kerajaan-kerajaan besar di masa lalu hingga perjuangan melawan penjajah dan kontribusi besar dalam kemerdekaan Indonesia.
Masyarakat Kuningan terus melestarikan nilai-nilai luhur dari leluhur mereka, dan kini kabupaten ini terus berkembang menuju masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Tanggal 1 September bukan hanya hari jadi Kuningan, namun juga menjadi simbol kebanggaan dan semangat juang masyarakat Kuningan.
Dengan memperingati hari jadi ini setiap tahun, Kuningan mengingatkan kita akan pentingnya menjaga warisan budaya dan sejarah, serta semangat untuk terus maju di masa depan.***
autosup
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
