ABOUT SEMARANG – Human Papillomavirus (HPV) adalah virus yang menginfeksi permukaan kulit manusia dan dapat menular melalui kontak langsung.
Terdapat lebih dari 200 jenis HPV, namun hanya beberapa jenis yang menyebabkan gejala atau komplikasi serius, seperti kanker serviks pada wanita, dan kanker anus pada pria.
Sebagian besar infeksi HPV bersifat asimptomatik, namun beberapa jenis dapat menimbulkan kutil, terutama pada area genital, telapak kaki, atau bahkan wajah.
Gejala HPV
Sebagian besar infeksi HPV tidak menimbulkan gejala, namun beberapa jenis dapat menyebabkan kutil pada kulit atau area tubuh tertentu.
Berikut adalah gejala HPV yang bisa muncul tergantung lokasi infeksi, dikutip dari laman rspondokindah.co.id:
1. Kutil Kelamin
Infeksi HPV pada alat kelamin dapat menyebabkan kutil kelamin berbentuk seperti kembang kol.
Kutil ini bisa muncul di area kelamin, dubur, atau bahkan di sekitar mulut dan tenggorokan jika terjadi penularan melalui seks oral.
Kutil kelamin biasanya menimbulkan rasa gatal dan tidak nyaman.
2. Kutil di Telapak Kaki (Plantar Warts)
Jika infeksi terjadi pada telapak kaki, kutil akan muncul sebagai benjolan keras dengan permukaan kasar, yang bisa menyebabkan rasa tidak nyaman saat berjalan atau berdiri.
3. Kutil pada Bahu, Lengan, dan Jari Tangan
Kutil pada bagian tubuh ini biasanya berbentuk benjolan datar, kasar, dan terkadang mudah berdarah.
Kutil ini bisa tumbuh di hampir bagian mana pun dari tubuh, meskipun sering ditemukan di tangan.
4. Kutil di Wajah
Kutil pada wajah umumnya berbentuk datar dengan permukaan yang lebih halus. Lokasi paling umum adalah di rahang bawah, terutama pada anak-anak.
Penyebab HPV
HPV ditularkan melalui kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi atau melalui hubungan seksual yang melibatkan alat kelamin, anus, atau seks oral. Beberapa cara penularan HPV adalah:
- Kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi atau lokasi tumbuhnya kutil.
- Kontak seksual melalui hubungan vagina, seks anal, atau oral, serta penggunaan alat seks yang tercemar HPV.
- Penularan dari ibu ke anak selama proses persalinan normal, yang dapat menginfeksi bayi.
Faktor Risiko Infeksi HPV
Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko terinfeksi HPV, di antaranya:
- Perilaku seksual yang tidak aman: Memiliki lebih dari satu pasangan seksual atau bergonta-ganti pasangan.
- Berhubungan seks anal, yang lebih berisiko terinfeksi HPV, terutama pada pria yang berhubungan seks dengan pria (LSL).
- Penyakit menular seksual lainnya, seperti gonore atau klamidia, yang dapat meningkatkan kerentanannya terhadap HPV.
- Daya tahan tubuh yang lemah, terutama pada penderita HIV/AIDS yang lebih rentan terinfeksi HPV.
- Luka terbuka pada kulit, yang mempermudah penularan virus.
Diagnosis HPV
Diagnosis infeksi HPV dilakukan melalui beberapa langkah pemeriksaan yang dimulai dengan anamnesis untuk mendapatkan informasi mengenai gejala, riwayat aktivitas seksual, dan kondisi medis yang ada.
Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan fisik, di mana dokter akan mencari adanya kutil atau tanda infeksi lainnya.
Untuk kasus infeksi pada wanita, dokter akan melakukan tes Pap smear untuk memeriksa adanya perubahan sel serviks yang bisa berkembang menjadi kanker serviks.
Dokter juga bisa melakukan tes HPV DNA untuk mengetahui apakah infeksi HPV menyebabkan perubahan sel-sel serviks.
Untuk pria, skrining HPV lebih terbatas. Anal Pap smear disarankan untuk mereka yang berisiko tinggi (misalnya pria dengan HIV), meskipun tes ini tidak dilakukan rutin untuk semua pria.
Penanganan HPV
Sebagian besar infeksi HPV akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan. Namun, jika kutil atau gejala lain mengganggu, dokter dapat memberikan pengobatan berupa:
1. Obat Oles
Dokter dapat meresepkan obat topikal untuk mengikis kutil secara bertahap. Obat ini biasanya mengandung asam salisilat atau bahan lain yang berfungsi untuk merusak jaringan kutil.
2. Pengangkatan Kutil
Jika pengobatan topikal tidak berhasil, pengangkatan kutil bisa dilakukan dengan berbagai metode, seperti:
- Krioterapi: Membekukan kutil menggunakan cairan dingin.
- Kauterisasi: Memotong kutil dengan menggunakan pembakaran.
- Terapi sinar laser: Menggunakan laser untuk menghilangkan kutil.
- Pembedahan: Mengangkat kutil dengan prosedur bedah.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun kutil dapat dihilangkan, pengobatan ini tidak menghilangkan virus HPV dari tubuh, sehingga kutil bisa muncul lagi jika virus masih ada.
Komplikasi HPV
Jika tidak diobati, infeksi HPV dapat menyebabkan beberapa komplikasi serius, di antaranya:
- Kanker: HPV dapat menyebabkan kanker serviks pada wanita, serta kanker anus, penis, dan tenggorokan pada pria. Jenis HPV tertentu (seperti tipe 16 dan 18) diketahui berhubungan erat dengan kanker.
- Gangguan saluran pernapasan atas: HPV dapat menyebabkan pertumbuhan kutil di mulut, tenggorokan, dan laring.
- Gangguan pada kehamilan: Kutil kelamin yang tumbuh selama kehamilan dapat menghalangi jalan lahir, menyebabkan perdarahan, atau menular ke bayi selama proses kelahiran.
- Erosi serviks: Perubahan pada serviks yang dapat mempengaruhi fungsi reproduksi.
Pencegahan HPV
Langkah terbaik untuk mencegah infeksi HPV adalah dengan melakukan vaksinasi HPV, yang efektif mencegah beberapa jenis HPV yang paling berisiko menyebabkan kanker.
Selain vaksinasi, ada beberapa upaya pencegahan lain yang bisa dilakukan:
- Praktik seks yang aman: Menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks dan menghindari bergonta-ganti pasangan seksual.
- Menjaga kebersihan: Jangan menyentuh kutil langsung, dan pastikan selalu mencuci tangan setelah bersentuhan dengan kulit yang terinfeksi.
- Pemeriksaan rutin: Melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi mereka yang berisiko tinggi terinfeksi HPV.
- Tidak berbagi alat pribadi: Hindari berbagi pakaian dalam atau alat pribadi dengan orang lain.
Infeksi HPV, meskipun seringkali tidak bergejala, dapat menimbulkan masalah kesehatan serius seperti kutil, gangguan reproduksi, hingga kanker.
Oleh karena itu, penting untuk melakukan pencegahan dengan vaksinasi HPV dan menjaga perilaku seksual yang sehat.
Jika Anda mencurigai adanya gejala HPV, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit dan kelamin untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.***
autosup
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru