ABOUT SEMARANG – Brem, kudapan bercita rasa manis yang bentuknya khas persegi panjang berwarna putih gading, telah menjadi bagian dari sejarah kuliner Nusantara sejak masa penjajahan Belanda.

Dahulu, brem bukanlah camilan sembarangan. Hanya kaum berada yang bisa menikmatinya, sementara masyarakat biasa lebih memilih membeli bahan pangan pokok seperti nasi, jagung, gandum, atau umbi-umbian.

Karena itu, brem sempat digolongkan sebagai makanan mewah pada masanya.

Kini brem dapat dinikmati siapa saja dengan harga yang terjangkau, hanya sekitar Rp10 ribu per kemasan. Namun, kelezatan dan nilai sejarahnya tetap membuatnya menjadi salah satu oleh-oleh favorit di berbagai daerah, terutama Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Bali.

Di Solo dan Wonogiri, misalnya, brem dikenal dalam bentuk bulat pipih menyerupai kerupuk ikan. Bahkan untuk menarik minat anak muda, brem hadir dalam berbagai varian rasa seperti cokelat, stroberi, melon, jeruk, hingga durian.

Adapun di Bali, brem dikembangkan menjadi minuman beralkohol dengan cita rasa asam-pahit yang unik.

Meski kini tersebar luas, brem sejatinya berasal dari Kabupaten Madiun, tepatnya dari Desa Kaliabu dan Desa Bancong.

Nama “brem” diyakini berasal dari proses pembuatannya yang membutuhkan fermentasi selama tujuh hari. Kata “peram” dalam bahasa Jawa terdengar seperti “prem”, yang kemudian berkembang menjadi “brem”.

Proses pembuatannya yang panjang dan harga jual yang relatif murah membuat banyak produsen kecil kesulitan bertahan.

Bahan dasar brem sebenarnya sederhana — beras ketan putih, ragi tape, dan soda kue — tetapi fermentasi ketan selama satu minggu menjadi tantangan tersendiri. Selama masa pandemi, sekitar 40 UMKM brem di Madiun bahkan terpaksa gulung tikar.

Proses awal dimulai dengan mengukus beras ketan selama 20 menit, mencucinya kembali, lalu mengukus ulang selama 1,5 jam. Teknik ini turut menentukan warna putih khas brem.

Setelah matang, nasi ketan didinginkan sebelum diberi ragi. Jika ragi ditambahkan saat ketan masih hangat, brem akan menjadi kecut.

Setelah itu, ketan disimpan dalam wadah tertutup selama tujuh hari hingga menjadi tape ketan. Air dari tape inilah yang menjadi dasar brem.

Air tape diperas, disaring, lalu direbus hingga sari dan airnya terpisah. Selanjutnya diaduk dalam mesin hingga mengental menjadi pasta, lalu dicetak sesuai bentuk yang diinginkan dan dijemur hingga kering.

Menariknya, ampas tape ketan tidak dibuang begitu saja. Ampas yang lembut bisa diolah menjadi campuran bolu kukus dengan aroma tape yang khas.

Kini, brem terus bertahan sebagai salah satu oleh-oleh legendaris dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Teksturnya yang keras namun langsung meleleh di mulut memberikan pengalaman kuliner yang unik.

Meski berasal dari proses fermentasi, kadar alkohol brem sangat rendah sehingga tidak memabukkan.

Dengan inovasi rasa dan kemasan yang makin kekinian, brem tetap menjadi favorit para wisatawan maupun pecinta kuliner tradisional Indonesia.***





autosup

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

By Autosup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *